Masih ingat August Mahieu dengan Komedie Stamboel? Mahieu bagai trend setter di Jawa. Ia membuat orang lain meniru tontonan panggung ala Komedie Stamboel atau dkenal sebagai Komedie Bangsawan. Padahal, Mahieu meniru pula dari pertunjukan Abdul Muluk. Banyak orang bilang, Abdul Muluk pun meniru pertunjukan serupa asal Iran. Sepanjang sejarah pergerakan manusia, tentu saja perihal tiru meniru, adaptasi, kolaborasi, percampuran, penggabungan, atau pengaruh unsur seni dan budaya tak terelakkan.
Mahieu membius masyarakat di Hindia Belanda dan merangsang seniman lain mendirikan komedi alias pertunjukan. Sebut saja Komedie Opera Samboel, Opera Sri Permata, Opera Bangsawan, dan Indra Bangsawan. Tak seperti rombongan Mahieu yang berisi pemain Indo Jawa, rombongan baru tersebut menggunakan pemain yang seluruhnya pribumi. Meski demikian, cita rasa Mahieu tak ditinggalkan, yaitu penampilan dansa tango, kabaret, tablo, waltz, polka, dengan kostum ala bangsawan, pangeran, ratu, putri, pokoknya yang berbau barat. Itu sebabnya Komedie Stamboel dan ikutannya disebut Komedie Bangsawan.
Demikianlah tontonan tersebut menghibur banyak hati wong cilik di masa itu, abad 19. Alun-alun kota seringkali jadi panggung besar bagi rombongan komedi tersebut. Penontonnya? Beragam. Tapi kebanyakan ya wong cilik tadi. Bahkan kuli perkebunan ingin dihibur rombongan tersebut, demikian Misbach Yusa Biran dalam Sejarah Film 1900-1950:Bikin Film di Jawa.
Repertoar-repertoar campuran dari Baghdad, Eropa, India, mereka mainkan tanpa menggunakan naskah. Hanya garis besarnya saja yang dipahami para pemain. Mereka tak kenal naskah panggung, semua percakapan tak lain hanylah improvisasi. Apa pasal? Para pemain itu umumnya buta huruf.
Itu juga barangkali, kenapa pertunjukan rombongan komedi tersebut tak mengubah repertoar atau membuat sendiri kisah ala mereka. Hingga akhirnya muncullah Tio Tek Djien dengan Miss Riboet Orion dan Piedro dengan Dardanella. Dua rombongan besar ini menelurkan berbagai kisah karangan mereka sendiri dengan kepiawaian Andjar Asmara dan Nyoo Cheong Seng.
Perkembangan rombongan komedi ini menentukan perjalanan kesenian bangsa ini terutama dalam hal perfilman. Dari rombongan komedi ini kemudian muncul istilah anak wayang mengikuti istilah yang berkembang di tanah Malaka, di mana Mahieu mencontoh penampilan Abdul Muluk. Istilah tersebut biasa digunakan oleh awak rombongan itu. Pertunjukan mereka disebut wayang panggung.
Kehidupan manusia panggung, anak-anak wayang, adalah kehidupan yang terdiri dari pemain dalam satu rombongan. Mereka hidup, makan, minum. tidur, bermain, bercanda, bermain di satu rumah atau kampung untuk kemudian bermain bersama di atas panggung, begitu selalu. Misbach menuliskan, jika sedang ikut pertunjukan keliling, mereka tinggal di satu rumah kongsi – bangunan kosong yang disewa pemilik rombongan. Ini menyebabkan mereka tak bergaul dengan manusia lain selain manusia dalam rombongan itu yang rata-rata buta huruf. Pemain komedi dibayar harian, mereka seringkali harus bekerja tambahan jika pertunjukan di satu kota sepi penonton.
Di Batavia, anak wayang dikumpulkan di kawasan bernama Tangki, di daerah Mangga Dua. Di tahun 1920-an, berdiri Malayan Opera. Anak wayang Malayan Opera inilah yang kebanyakan tinggal di Tangki. Pada 1950, di mana kampung ini kemudian dijejali seniman, muncul sebutan Tangkiwood – seperti Hollywood.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto


No comments:
Post a Comment