Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Widget edited by Anang

Friday, October 2, 2009

Catatan Pelancong dan Pariwisata Hindia Belanda

Sebuah poster pariwisata pada Hindia Belanda, khususnya Java pada tahun 1930-an



CATATAN perjalanan yang dilakukan oleh banyak pengelana dunia berabad silam menjadi cikal bakal perkembangan pariwisata dunia. Termasuk pengelana yang akhirnya berlabuh di Hindia Belanda. Pengelana itu bisa jadi serdadu, pegawai, pejabat yang bertugas di Hindia Belanda. Catatan perjalanan kebanyakan menceritakan pengalaman si penulis saat tiba di suatu tempat, seperti misalnya Jawa. Deskripsi tentang pemandangan alam yang cantik begitu menggugah orang yang membaca.Seperti W Basil Worsfold yang menuliskan pengalaman di Jawa dalam A Visit to Java - With an Account of the Founding of Singapore. Buku ini terbit tahun 1893. Worsfold tak hanya berkisah tentang Buitenzorg atau Bogor, dan Batavia, tapi juga menjelaskan sejarah Jawa sejak masa Hindu. Bahkan pada abad 19 itu, ia juga sudah menuliskan tentang Boro Boedoer (Borobudur). Saat tiba di Batavia, Worsfold terkesan dengan sado, alat transportasi di masa itu. Mau tak mau ia juga akan menceritakan tentang di mana ia tinggal, seperti Hotel der Nederlanden.Berbeda dengan Belanda, yang sangat punya kepentingan di Hindia Belanda, maka tak heran jika ditemukan buku panduan pariwisata bertahun 1786 ditulis oleh Hofhout. Buku panduan itu, menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya jilid I, diperuntukkan bagi pegawai VOC yang baru tiba di Batavia. Selain memuat topografi yang cermat mengenai kota dan sekitarnya, Hofhout juga menganjurkan orang untuk tamasya ke kota air Cipanas. Buku itu bahkan sudah menyertakan daftar kata bahasa Melayu untuk percakapan sederhana.Comte de Beauvoir, bangsawan Perancis yang mampir ke Jawa pada 1866 menggambarkan Jawa begini, "Jika ada orang-orang yang peka akan keindahan alam, datanglah ke sini. Mereka akan menjadi bisu karena terpesona." Di samping pemandangan alam, Jawa juga bermodal pesona reruntuhan bangunan kuno yang semakin hari semakin menarik perhatian orang Eropa. Belum lagi candi-candi dengan ikonografi India. Bahkan menurut Lombard, gunung-gunung berapi yang mengitari Nusantara termasuk Jawa, juga air terjun yang terkadang bukan air terjun besar, adalah kekayaan Pulau Jawa yang kemudian diperkenalkan dalam paket wisata di masa itu. Selanjutnya, tentu tentang nyamannya hotel di tanah ini.Sejalan dengan perkembangan turisme modern di Eropa pada awal abad 20, maka turisme di Hindia Belanda pun ikut berkembang. Dalam penelitian berjudul Vereeniging Toeristen Verkeer Batavia (1908-1942) - Awal Turisme Modern di Hindia Belanda, Achmad Sunjayadi menjelaskan, pada tahun 1908 pemerintah Hindia Belanda membuka pembatasan kunjungan ke Hindia Belanda dan menjadikan kawasan ini sebagai tujuan wisata. Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu Van Heutsz kemudian membentuk Vereeniging Toeristenverkeer - perhimpunan turisme - di Weltevreden, Batavia.Di abad 20 ini mulailah iklan pariwisata Jawa semarak, demikian pula buku- buku panduan pariwisata. Misalnya lewat poster pariwisata Visit Java Only 36 Hours From Singapore lengkap dengan peta kota-kota di Jawa. Demikian pula sebuah buku panduan Java, The Wonderland yang diterbitkan oleh Official Tourist Bureau Weltevreden - Batavia. Dengan terbentuknya Perhimpunan Turisme dan semakin berkembangnya jalur transportasi, termasuk dibukanya jalur penerbangan ke Batavia, berubahnya tipe wisatawan, maka makin berkembang pula dunia pariwisata di Hindia Belanda.WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

No comments:

Post a Comment

make cash

ShoutMix chat widget